Latest Posts

Jl.Basuki Rahmat redaksi@semestaseni.com

Helvy Tiana Rosa Latar Peseni Bakat dari Tuhan Harus Diasah dan Dikembangkan

Sejak kecil, Helvy Tiana Rosa sudah memilih untuk menapaki dunia literasi. Jalan yang tak banyak dicita-citakan anak-anak seusianya saat itu. EJAK usia prasekolah, Helvy selalu mendengar dongeng yang diceritakan sang ibu. Ibunya juga
sangat rajin membaca. Orangtuanya memang mengoleksi banyak buku di rumahnya.

Ayahnya adalahseorang penulis lagu. Helvy kecil bahkan sering diajak ayahnya untuk bersama-sama menulis syair lagu. Akrabdengan keseharian seperti ini membuatnya memiliki
bakat menulis yang kuat, dan memiliki motivasi yang besar untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Helvy mulai menulis puisi dan cerpen dengan memberanikan diri mengirim karya-karyanya ke redaksi majalah anak-anak. Banyaknya hasil karyanya yang dimuat, membuat Helvy lebih bersemangat dan giat menulis.

Hal ini juga berdampak kepada adiknya Asma Nadia yang mengikuti jejaknya sebagai penulis. Perlahan bakat perempuan kelahiran Medan, 2 April 1970 ini semakin tajam. Berbagai lomba puisi berhasil dimenangkannya. Putri pertama dari pasangan Amin Usman, lebih dikenal dengan nama Amin Ivos seorang pencipta lagu dari Aceh dengan Aria Erry Susanti, wanita keturunan Tionghoa kelahiran Medan, ini setelah tamat Sekolah Menengah Atas, melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra Jurusan Sastra Asia Barat dengan konsentrasi Program Studi Bahasa Arab.

Di kampusnya kiprah Helvy dalam kesenian dan berorganisasi
semakin meningkat tercatat dia mendirikan
Teater Bening (Ketua Teater Bening, 1990 - 1993),
menjadi penulis naskah untuk pementasan-pementasan
teater, selain itu bakat menulisnya semakin terasah,
Helvy memenangkan berbagai perlombaan menulis
yang diadakan oleh FSUI dan UI, tulisan-tulisannya
pun semakin dikenal luas, karena banyak media yang
memuat berbagai karya-karyanya. Di kampusnya, Helvy
juga aktif dalam kegiatan berorganisasi, menjadi staf
Pengabdian Masyarakat Senat Mahasiswa FSUI (1991
- 1992 dan 1992 - 1993), Litbang Senat Mahasiswa
FSUI (1993 - 1994), dan Litbang Senat Mahasiswa UI (
1994 - 1995). Selain itu ia juga menjadi redaktur Majalah
Annida--pelopor majalah remaja berbasis religi. Hal ini
membuat Helvy semakin rajin menulis, berbagai puisi
dan cerpen-cerpennya dan banyak dimuat di Majalah
Annida dan media lainnya.
Cerpen-cerpen Helvy dianggap sebagai cerpen inspiratif
anak-anak muda. Satu di antara cerpennya yang sangat
fenomenal dan mendobrak dunia sastra adalah Ketika
Mas Gagah Pergi yang diterbitkan Majalah Annida.
Cerpen ini dicetak puluhan kali, dan menjadi satu di
antara cerpen best seller yang paling diminati pembaca.
Pada 1997 bersama adiknya Asma Nadia, dia mendirikan
perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku
bernama Forum Lingkar Pena (FLP), Helvy juga mengajak
beberapa cerpenis Annida untuk ikut bergabung. FLP dimaksudkan
sebagai wadah bagi para penulis-penulis muda
untuk mengembangkan bakatnya dan sebagai media
untuk memperkenalkan tulisan-tulisan mereka. Melalui
FLP nama Helvy semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia
tetapi juga di negara lain seperti Hong Kong, Malaysia,
Arab Saudi, Jepang, Sudan, Mesir, Amerika,
dan beberapa
negara lain. Helvy menjadi ketua FLP pertama, 1997 -
2005. Pada 2004 bergabung dengan penerbit Mizan, menjadi
Lingkar Pena Publishing House, dan Helvy menjadi
Direktur Utama Lingkar Pena Kreativa, 2004 - 2011.
Pada 2008 FLP mendapat penghargaan Danamon Award
sebagai inspirator dan inisiator yang telah melakukan
pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar dengan
siignifikan. Sebelumnya 2002, Helvy mendirikan Rumah Cahaya yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas
membaca masyarakat.
Berbagai penghargaan terus berdatangan, satu di antaranya
yang paling membanggakan adalah terpilihnya
Helvy sebagai “The World’s 500 Most Influential Muslim”
selama tiga tahun berturut-turut dari, 2009 - 2011, dalam
kategori art and culture. Pada 2023 Helvy kembali terpilih
sebagai “The World’s 500 Most Influential Muslim”
bersama tokoh-tokoh dunia dan tokoh-tokoh Indonesia
seperti Sri Mulyani, Khofifah Indar Parawangsa, Maria
Ulfah, Megawati Soekarnoputri, Tri Mumpuni, Nadhira
Nuraini Afifah, dan Sulis.
Selain itu, untuk di dalam negeri banyak sekali penghargaan
yang diterima Helvy, di antaranya: Muslimah Indonesia
Berprestasi dari Majalah Amanah, 2000; Ibuku Idolaku
Award dari Benadryl, Hari Ibu Tingkat Nasional 2002;
Pena Award untuk buku Lelaki Kabut dan Boneka/Dolls The
Man Of The Mist, 2002; Tokoh Sastra Era Muslim Award,
2006; Tokoh Perbukuan Nasional, IBF Award, IKAPI 2006;
Pemenang Pertama Esai Ayah Bunda, Prenagen 2007; Ikon
Perempuan Indonesia, versi Majalah Gatra 2007; Dosen
Berprestasi Universitas Negeri Jakarta, 2008; Bukavu, 10
Buku Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008;
dan Kartini Award, sebagai satu di anatar “The Most
Inspiring Woman In Indonesia” dari Majalah Kartini 2009.
Pada 2015, Helvy menandai babak baru dalam kariernya.
Tahun itu ia menjadi produser untuk film yang diangkat dari
karyanya yaitu Ketika Mas Gagah Pergi. Setelah itu dia memproduksi
beberapa film lainnya, Duka Sedalam Cinta, 2017,
The Power of Love, 2018, Hayya, 2019, dan Hayya 2, 2022.
Selain sebagai pesastra, Helvy juga tercatat menjadi
Dosen di Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Bahasa
dan Seni sejak 1995. Sebagai pesastra dan akademisi,
dia sangat memahami bagaimana perkembangan sastra
dalam dunia pendidikan Indonesia dewasa ini. Menurutnya
anak-anak perlu diperkenalkan pada sastra sedini
mungkin, dimulai dari rumah lalu ke sekolah, mulai tingkat
TK, SD, SMP, SMA, dan bagaimana pelajaran bahasa dan
sastra bisa menjadi menyenangkan bagi para pelajar dan
mahasiswa. Karena saat ini, belajar sastra karena “terpaksa”,
bukan karena keinginan mereka, meski ada perkembangan yang cukup baik yang mana mulai terlihat minat
untuk mempelajari sastra dari anak-anak milenial.
Di sinilah tugas akademis sastra diperlukan untuk membuat
sastra menjadi hal yang menyenangkan, menjadi
sesuatu yang menimbulkan minat untuk mempelajarinya.
Karena sesungguhnya sastra merupakan barometer peradaban
bangsa, sastra memunyai hubungan yang erat dengan
masyarakat di suatu negara, sastra adalah potret atau
refleksi dari kehidupan manusia. Untuk itu seorang dosen
atau pengajar bidang sastra harus benar-benar memiliki
pemahaman yang dalam mengenai sastra itu sendiri.
Penambahan jam pelajaran dan cara mengajar yang lebih
menarik menjadi bagian yang harus dikerjakan, pelajaran
sastra bisa juga dimasukkan untuk mata pelajaran lain,
seperti misalnya mata pelajaran geografi, saat mengajarkan
tentang sungai-sungai dengan memakai cerpen Gerson
Poyk. Baginya, sastra itu lintas ilmu, dan bisa masuk
ke mana saja. Dia selalu mendorong mahasiswanya
untuk
gemar membaca dan cinta menulis, sambil terus memotivasi
mereka untuk meyelami dunia sastra lebih dalam.
Bagi Helvy, tidak ada kata berhenti untuk menulis,
menulis adalah pekerjaan mulia, karena menulis adalah
kegiatan menanamkan berlian di hati pembaca.
Istri dari Widanardi Satryatomo (Tomi) ini memperoleh
gelar Magister Humaniora dari Fakultas Ilmu Pengetahuan
Budaya Universitas Indonesia dan Doktor dalam
bidang pendidikan bahasa dari Universitas Negeri Jakarta,
juga aktif dalam organisasi yang berkaitan dengan
seni-budaya. Pada 2003, dia menjadi sekretaris Dewan
Kesenian Jakarta, Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian
Jakarta (2003 - 2006), Anggota Majelis Sastra Asia
Tenggara (2006 - 2014), dan Wakil Ketua Seni-Budaya
dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia.
Ibu dari Abdurahman Faiz dan Nadya Paramita ini
telah membuktikan bahwa sesuatu yang dikerjakan
dengan hati dan sungguh-sungguh akan menghasilkan
hal yang besar. Bakat yang telah diberikan Tuhan harus
diasah dan terus dikembangkan dengan maksimal agar
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri
maupun masyarakat luas.


Ossie Helmi - Berbagai sumber
Semesta Seni

Redaksi

Saya Halimah Munawir.Halimah atau lebih populer dengan nama panggilan Halimah Munawir ini adalah seorang Penulis, Pebisnis dan Pegiat Seni dan Budaya . yang memiliki kepedulian tinggi kepada dunia literasi , tradisi seni budaya, dan pendidikan.

Obor Sastra

Redaksi menerima naskah, foto, dan informasi yang berkaitan dengan seni-budaya. Naskah, foto, dan informasi tersebut akan disunting sesuai dengan misi-visi penerbitan ini

Obor Sastra

Sastra

Living

Entertainment