Latest Posts

Jl.Basuki Rahmat redaksi@semestaseni.com

Sejarah Penetapan 22 Desember Sebagai Hari Ibu

Perempuan mulia, dengan jemari bergelimang kasih, hatinya adalah mata air cinta dan pada jejak langkahnya harum surga memenuhi semesta.
BU, tidak akan pernah cukup kata untuk menggambarkan
sosok perempuan luhur ini, ibu adalah muara
kehidupan.
Hampir setiap negara memunyai hari khusus sebagai
bentuk penghargaan kepada ibu, seperti di Prancis yang
jatuh pada minggu keempat Mei, Inggris yang merayakan
Hari Ibu sejak abad 16, yang diadakan pada minggu
keempat sebelum Paskah, disebut juga dengan Mothering
Sunday. Meksiko menetapkan 10 Mei sebagai perayaan
Hari Ibu dengan memberikan bunga adalah kewajiban
dan perayaan ini juga ditandai dengan pemutaran lagu
Les Mananitas dari penyanyi Mariachi. Di Jepang, peringatan
Hari Ibu atau Haha No Hi pada awalnya bersamaan
dengan perayaan hari ulang tahun Permaisuri
Koujun, kemudian dipindahkan pada minggu kedua Mei,
bersamaan dengan saat masyarakat Jepang memberikan
hadiah untuk sang ibu. Di Uni Soviet, perayaan Hari Ibu
jatuh pada 8 Maret, namun semenjak Uni Soviet pecah,
pemerintah Rusia mengubahnya menjadi minggu terakhir
November, meskipun masih banyak orang yang
memberikan hadiah untuk ibu pada Maret.
Di Indonesia sejarah awal perayaan Hari Ibu dimulai
pada saat diadakannya Kongres Perempuan Indonesia
Pertama pada 22 - 25 Desember 1928 yang dilangsungkan
di Yogyakarta. Gedung Mandalabhakti Wanitatama
di Jalan Adisucipto menjadi saksi peristiwa penting ini.
Sebanyak 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan
Sumatera berkumpul untuk membentuk Kongres Perempuan
Indonesia yang sekarang dikenal dengan nama
Kongres Wanita Indonesia atau KOWANI.
Kalau kita melihat ke belakang, sejak 1912 sebenarnya
Indonesia sudah memiliki organisasi perempuan. Pejuang-
pejuang wanita sejak abad 19 seperti Cut Mutia,
Rangkayo Rasuna Said, Walanda Maramis, Martha Christina
Tiahahu, RA Kartini, Dewi Sartika, dengan tidak
Sejarah Penetapan
22 Desember Sebagai
Hari Ibu
langsung telah merintis organisasi perempuan melalui
gerakan-gerakan perjuangannya.
Hal itu menjadi latar belakang dan tonggak sejarah
perjuangan kaum perempuan di Indonesia. Merupakan
motivasi kuat bagi para perempuan Indonesia untuk
bersatu dalam semangat dan pemikiran bagi kemajuan
perempuan Indonesia, serta cita-cita kemerdekaan dan
perbaikan nasib kaum perempuan.
Pada Kongres Perempuan Indonesia Pertama, yang
menjadi agenda utama adalah Persatuan Perempuan
Nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan,
peranan perempuan dalam berbagai aspek
pembangunan bangsa, dan lain-lain. Banyak hal besar
yang diagendakan, para perempuan pejuang itu menuangkan
pemikiran-pemikiran kritis dan upaya-upaya
penting bagi kemajuan bangsa Indonesia umumnya dan
kaum perempuan khususnya.
Pada 20 - 24 Juli 1935, kembali diadakan Kongres
Perempuan
Indonesia Kedua, Kongres yang diselenggarakan
di Jakarta ini dipimpin oleh Sri Mangunsarkoro.
Dalam Kongres ini dihasilkan beberapa keputusan,
seperti memakai nama Kongres Perempuan Indonesia
sebagai forum resmi pertemuan organisasi perempuan
Indonesia dan mendirikan Badan Penyidikan Perburuhan
Perempuan.
Kongres Perempuan Indonesia Ketiga diadakan tiga
tahun kemudian yaitu pada 23 - 28 Juli 1938 di Bandung,
dengan dipimpin Emma Puradireja.
Pada kongres kali ini, diputuskan untuk menetapkan 22
Desember sebagai Hari Ibu. Awal peringatan Hari Ibu
adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para
perempuan hebat Indonesia dalam upaya perbaikan
kualitas perempuan Indonesia juga kualitas Bangsa.
Misi itulah yang menjadi roh dan semangat perempuan
Indonesia dari berbagai latar pendidikan dan pekerjaan
untuk bersatu dan bekerja sama.
Samangat untuk berkontribusi dan keinginan untuk
memajukan bangsa, kaum perempuan khususnya, menjadikan
setiap peringatan Hari Ibu sarat dengan kegiatan
yang bertujuan membantu perempuan-perempuan
Indonesia agar hidup lebih layak dan sejahtera.
Perayaan cukup besar diadakan pada peringatan Hari
Ibu ke-25 di Solo. Pada saat itu diadakan pasar amal
yang seluruh hasilnya digunakan untuk membiayai
kegiatan
Yayasan Kesejahteraan Wanita Buruh dan pemberian
beasiswa bagi anak-anak perempuan.
Pada waktu itu juga diadakan rapat umum yang menghasilkan
resolusi meminta pemerintah agar melakukan
pengendalian harga-harga sembako.
Kiprah Kongres Perempuan Indonesia berhasil meningkatkan
kepercayaan perempuan Indonesia dan membuat
eksistensi perempuan semakin diperhitungkan. Posisi-
posisi penting baik di perusahaan-perusahaan maupun
di pemerintahan mulai banyak diisi oleh para perempuan.
Pada 1950, merupakan satu di antara sejarah
penting bagi perempuan Indonesia, karena pada tahun
itu, Maria Ulfah diangkat sebagai Menteri Sosial oleh
Presiden Soekarno. Presiden Soekarno kemudian dengan
resmi mengeluarkan Dekrit Presiden No 316 Tahun
1959, yang menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu,
dan dirayakan dalam skala nasional hingga sekarang.
Pada kongres di Bandung, 1952, diusulkan untuk membuat
monumen peringatan Hari Ibu, sebagai bentuk
penghargaan kepada perempuan Indonesia. Pada tahun
berikutnya dibangunlah Balai Srikandi di Yogyakarta.
Ketua kongres pertama Ibu Sukanto melakukan
peletakan batu pertama pembangunan monumen
tersebut, dan pada 1956, Menteri Sosial Maria Ulfah
meresmikan
Balai Srikandi. Pada 1983, Presiden Soeharto
meresmikan keseluruhan kompleks monumen
Balai Srikandi menjadi Balai Bhakti Wanitatama di Jalan
Laksda Adisupto, Yogyakarta.
Dari sejarah Hari Ibu, kita melihat betapa tangguh para
perempuan Indonesia, semangat yang luar biasa untuk
memajukan dan menyejahterakan kehidupan perempuan
Indonesia.
Namun peringatan Hari Ibu bukan hanya untuk mengenang
jasa para pejuang dan wanita pahlawan Indonesia,
namun juga merupakan wujud rasa cinta, hormat dan
terima kasih kepada para ibu. Begitu besar jasa para
ibu, dan begitu dalam pengorbanan mereka. Kemuliaan
ibu bukan hanya karena telah melahirkan kita, namun
juga atas segala pengabdian ibu dalam membesarkan
anak-anaknya, mengurus keluarga, juga partisipasi ibu
(perempuan) dalam masyarakat bahkan dalam kegiatan
bernegara.
Peringatan Hari Ibu 22 Desember adalah bentuk kado
istimewa Bangsa Indonesia kepada kaum perempuan
atas jasa-jasa mereka.
Ossie Helmi - Berbagai sumber

Redaksi

Saya Halimah Munawir.Halimah atau lebih populer dengan nama panggilan Halimah Munawir ini adalah seorang Penulis, Pebisnis dan Pegiat Seni dan Budaya . yang memiliki kepedulian tinggi kepada dunia literasi , tradisi seni budaya, dan pendidikan.

Obor Sastra

Redaksi menerima naskah, foto, dan informasi yang berkaitan dengan seni-budaya. Naskah, foto, dan informasi tersebut akan disunting sesuai dengan misi-visi penerbitan ini

Obor Sastra

Sastra

Living

Entertainment